Rabu, 02 April 2014

POTRET KEMISKINAN



KEMISKINAN


Lama dari mereka terbuang.
Begitu mudah tersingkirkan  ditengah kezaliman jaman,Bertahan dari keadaan,berjuang untuk hidup.
Bukan mereka pemalas, ataupun pembual belaka adanya.
Hanya bisa merasakan mandi keringat,banting tulang tak segan mereka lakukan,meskipun hanya untuk bertahan hidup.
Teringat kembali dalam kepalaku, kaki mungil mati dengan tersayang..

Bersama 2 buah hatinya, pemulung lusuh mencoba bertahan hidup. Iya hanya seorang ayah yang kerap rapuh dalam menempuh hidup. Menyusuri jalan,mengais bersama sampah. Tak malu ia menunggu sebagian orang yang membuang sisa makanannya..
Ya,… iya,.. hanya tuk bertahan dengan sesuap makanan sisa.

Hidup yang selalu di hampiri kesedihan.
Setiap pulang buah hatinya kian selalu bertanya.
”bapak bawa apa?”
”ibu kapan pulang?”
”kenapa kami tak sekolah?”
Terasa pedih,perih,.. menusuk dalam hati yang terasa pasti.Terbesit hati tuk mengakhiri penderitaan yang di alami kian terus menghantui.
Putus asa yang di rasa..
Pemulung itu mencoba meracuni buah hatinya dan mati bersama mereka.Di putuskannya hal itu.

Dengan menjual brang yang masih dia punya dan apa yang ada di gerobag nya,di belikannya baju baju indah tuk buah hatinya,di belikannya makan makanan lezat tuk buah hatinya, makanan yang telah diberikan racun..

Nak sini.. kita berkumpul,bapak ada kabar gembira untuk kalian.Hari ini bapak banyak rejeki,maka bapak belikan makanan yang lezat ini untuk kalian,dan baju ini bapak belikan juga untuk kita pergi bertamasia bersama besok. Besok pagi sekali kita berangkat,maka pakailah baju ini sekarang supaya besok tidak terlambat.

Serasa angin syurga menyapa anak anak itu, ceria dengan baju baju itu .

”Ayo sekarang makanlah..”
”Tidak,.. kami mau bapak yang menyuapin kami” (Sahut anak sulungnya)
Senyum bersama tangis hati, merona di muka pemulung,

”Baiklah,, bapak akan menyuapin kalian satu persatu,dari puteri(anak bungsu) dulu ya,,?”

Mengangguk mereka seraya tak sabar menunggu.Satu persatu di suapinnya,penuh keceriaan di muka mereka dan seusainya di suruh tidur mereka.
Saatnya giliran pemulung yang makan makanan itu.

Bersama malam gelap gulita,…tak terasa pagi tiba,manakala menyapa seorang teman dari pintu luar…. Guna mengajak mengais sampah.

“Di….. wardi… kamu gak kerja ya…?”

Terbangun kaget pemulung…
“Di mana aku,..ini Syurga.. apa Neraka..?”

Melihatnya ke samping buah hatinya masih tertidur,mencoba membangunkan mereka,.. dan,… tak bangun jua,…

“Mereka,… mereka,… tlah mati,… aku,..membunuh mereka,kenapa ku tak bersama mereka?”
Hanya tangis kesedihan penuh penyesalan,.. karena terundang suara tangisan,sesegera mungkin teman di luar,masuk rumah pemulung.

Sekarangpun pemulung itu harus meratapi kesedihannya di balik jeruji besi.

Sebenarnya siapa yang seharusnya merasa paling bersalah dalam kisah ini.



”dalam UU : Bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan ”