KEMISKINAN
Lama dari mereka terbuang.
Begitu mudah tersingkirkan ditengah kezaliman jaman,Bertahan dari
keadaan,berjuang untuk hidup.
Bukan mereka pemalas, ataupun
pembual belaka adanya.
Hanya bisa merasakan mandi
keringat,banting tulang tak segan mereka lakukan,meskipun hanya untuk bertahan
hidup.
Teringat kembali dalam kepalaku, kaki mungil mati dengan tersayang..
Teringat kembali dalam kepalaku, kaki mungil mati dengan tersayang..
Bersama 2 buah hatinya, pemulung
lusuh mencoba bertahan hidup. Iya hanya seorang ayah yang kerap rapuh dalam
menempuh hidup. Menyusuri jalan,mengais bersama sampah. Tak malu ia menunggu
sebagian orang yang membuang sisa makanannya..
Ya,…
iya,.. hanya tuk bertahan dengan sesuap makanan sisa.
Hidup
yang selalu di hampiri kesedihan.
Setiap
pulang buah hatinya kian selalu bertanya.
”bapak
bawa apa?”
”ibu
kapan pulang?”
”kenapa
kami tak sekolah?”
Terasa
pedih,perih,.. menusuk dalam hati yang terasa pasti.Terbesit hati tuk
mengakhiri penderitaan yang di alami kian terus menghantui.
Putus
asa yang di rasa..
Pemulung itu mencoba meracuni buah hatinya dan mati bersama mereka.Di putuskannya hal itu.
Pemulung itu mencoba meracuni buah hatinya dan mati bersama mereka.Di putuskannya hal itu.
Dengan
menjual brang yang masih dia punya dan apa yang ada
di gerobag nya,di belikannya baju baju indah tuk buah hatinya,di belikannya
makan makanan lezat tuk buah hatinya, makanan yang telah diberikan racun..
Nak
sini.. kita berkumpul,bapak ada kabar gembira untuk kalian.Hari ini bapak
banyak rejeki,maka bapak belikan makanan yang lezat ini untuk kalian,dan baju
ini bapak belikan juga untuk kita pergi bertamasia bersama besok. Besok pagi
sekali kita berangkat,maka pakailah baju ini sekarang supaya besok tidak
terlambat.
Serasa angin syurga menyapa anak anak itu, ceria dengan baju baju itu .
Serasa angin syurga menyapa anak anak itu, ceria dengan baju baju itu .
”Ayo
sekarang makanlah..”
”Tidak,..
kami mau bapak yang menyuapin kami” (Sahut anak sulungnya)
Senyum
bersama tangis hati, merona di muka pemulung,
”Baiklah,,
bapak akan menyuapin kalian satu persatu,dari puteri(anak bungsu) dulu ya,,?”
Mengangguk
mereka seraya tak sabar menunggu.Satu persatu di suapinnya,penuh keceriaan di
muka mereka dan seusainya di suruh tidur mereka.
Saatnya giliran pemulung yang makan makanan itu.
Saatnya giliran pemulung yang makan makanan itu.
Bersama
malam gelap gulita,…tak terasa pagi tiba,manakala menyapa seorang teman dari
pintu luar…. Guna mengajak mengais sampah.
“Di…..
wardi… kamu gak kerja ya…?”
Terbangun
kaget pemulung…
“Di
mana aku,..ini Syurga.. apa Neraka..?”
Melihatnya
ke samping buah hatinya masih tertidur,mencoba membangunkan mereka,.. dan,… tak
bangun jua,…
“Mereka,…
mereka,… tlah mati,… aku,..membunuh mereka,kenapa ku tak bersama mereka?”
Hanya
tangis kesedihan penuh penyesalan,.. karena terundang suara tangisan,sesegera
mungkin teman di luar,masuk rumah pemulung.
Sekarangpun
pemulung itu harus meratapi kesedihannya di balik jeruji besi.
Sebenarnya
siapa yang seharusnya merasa paling bersalah dalam kisah ini.
”dalam
UU : Bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan ”